• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Tren Perawatan Kulit Remaja: Bahaya Tersembunyi di Balik Viral.

img

Beritajitu.net Assalamualaikum semoga kita selalu dalam kebaikan. Di Momen Ini mari kita eksplorasi Lifestyle, News, Indonesia, Trends yang sedang viral. Artikel Ini Menawarkan Lifestyle, News, Indonesia, Trends Tren Perawatan Kulit Remaja Bahaya Tersembunyi di Balik Viral Ikuti selalu pembahasannya sampai bagian akhir.

Pada 17 Juni 2025, sebuah studi yang diterbitkan di Pediatrics pada 9 Juni 2025, menyoroti bahaya tren perawatan kulit di kalangan remaja yang dipopulerkan melalui media sosial. Studi ini, yang dilakukan oleh Northwestern Medicine, meneliti dampak dermatologis dan psikologis dari rutinitas kecantikan viral ini.

Dr. Molly Hales, seorang peneliti pascadoktoral dan dokter kulit bersertifikat dari Northwestern University Feinberg School of Medicine, menjelaskan bahwa video perawatan kulit yang populer seringkali mengandung rata-rata 11 bahan aktif yang berpotensi menyebabkan iritasi. Penelitian ini menemukan bahwa anak perempuan berusia 7 hingga 18 tahun menggunakan sekitar enam produk perawatan kulit setiap hari, bahkan ada yang menggunakan lebih dari selusin.

Dr. Tara Lagu, seorang dosen kedokteran dan ilmu sosial medis di Feinberg, menambahkan bahwa campuran asam, retinoid, dan parfum dalam produk-produk ini meningkatkan risiko dermatitis kontak alergi. Ia menggambarkan kasus seorang remaja yang mengalami reaksi kulit yang nyata setelah mengaplikasikan produk-produk tersebut.

Studi ini juga mengungkapkan bahwa biaya rata-rata untuk rutinitas perawatan kulit remaja mencapai $168 (sekitar Rp2,7 juta) per bulan, dengan beberapa mencapai lebih dari $500 (sekitar Rp8,1 juta). Dr. Hales menekankan bahwa risiko iritasi tinggi disebabkan oleh penggunaan beberapa bahan aktif sekaligus, atau penggunaan bahan aktif yang sama berulang kali dalam berbagai produk.

Para peneliti juga mengamati adanya pesan rasial yang tersirat dalam beberapa video, yang menekankan kulit yang lebih cerah dan putih. Akibatnya, banyak anak sekolah menengah, bahkan anak berusia tujuh tahun, mulai menggunakan serum, krim mata, dan eksfoliator pada kulit mereka yang masih muda.

Salah satu temuan yang mengkhawatirkan adalah hanya 26% dari rutinitas perawatan siang hari yang menyertakan tabir surya, yang sangat penting untuk kulit yang sedang berkembang. Selain itu, alergi kulit seumur hidup dapat membatasi penggunaan sabun, sampo, dan kosmetik tertentu.

Dr. Hales menyimpulkan bahwa standar yang sangat tinggi ditetapkan untuk gadis-gadis muda, dan cita-cita kesehatan seringkali terkait dengan kecantikan, ketipisan, dan kulit putih. Para peneliti menekankan bahwa video-video tersebut cenderung tidak memberikan manfaat kesehatan bagi anak-anak yang menontonnya.

Kesimpulan: Tren perawatan kulit viral di media sosial berpotensi membahayakan kesehatan kulit remaja dan membebani keuangan keluarga. Penting untuk berhati-hati dan berkonsultasi dengan dokter kulit sebelum mengikuti rutinitas perawatan kulit yang dipopulerkan secara online.

Sekian pembahasan mendalam mengenai tren perawatan kulit remaja bahaya tersembunyi di balik viral yang saya sajikan melalui lifestyle, news, indonesia, trends Jangan segan untuk mencari referensi tambahan kembangkan hobi positif dan rawat kesehatan mental. silakan share ke temanmu. Sampai bertemu lagi

© Copyright 2024 - Berita Jitu Update Berita Terbaru dan Terkini
Added Successfully

Type above and press Enter to search.